Bersabarlah…
Meski bersabar itu berat
Meski bersabar itu sakit
Tapi ketahuilah,
Surga akhirat dan dunia
Tergantung manis didepan kelopak mata
***
Hitam putih catatan kehidupan, sebuah sekenario Alloh yang berlalu begitu indah bagai pelangi diatas bukit dengan hamparan padang ilalang. Dimulai dari imaginasi seorang anak yang berjalan tanpa alas kaki. Berlari dan meloncat meski kadang tersandung di batuan putih dan menancap kedalam kulit. Bahkan tanpa arah dan pegangan kuat, yang ada adalah riuh burung-burung disekiling yang saling sahut menyahut. Bertahan dengan getaran semangat dan detakan sabar sampai Allah tunjukan yang terbaik untuk diri ini.
Wahyu Sri Mulyani adalah nama indah yang diberikan oleh paman. Lahir di Jakarta dan tinggal di perbukitan menoreh, Kulon Progo Yogyakarta dengan tanpa seorang Ayah. Untuk menatap ibupun harus menunggu satu tahun lamanya ketika liburan datang. Kutuliskan dengan penuh cinta, inilah kisah hidup seorang anak blendo yang dekil dan lusuh. Semoga dapat menginspirasi teman-teman untuk terus berdiri melangkah kedepan untuk Indonesia.
Selalu menjadi akhiran di dalam kelas ketika rapor semester dibagikan. Itulah saya diwaktu sekolah dasar. Bahkan ketika teman yang lain pergi ke sekolah dengan pekerjaan rumah yang 100 persen benar karena dukungan orang tua, saya hanya bisa diam dan percaya bahwa hal yang diberikan nenek saya tadi malam itu benar. Setidaknya untuk meyakinkan bahwa saya bisa. Akan tetapi kadang membuat diri ini dingin lemas karena 50 persen salah. Tak ada yang mau menuntunku untuk belajar, baik belajar angka, bahasa, hingga ayat Allah. Mungkin karena saking bodohnya aku, atau hitam dan lusuhnya tubuhku, hingga mereka tak mau menyandingku.
Tiba disuatu saat tak ada lagi jalan untuk terus memetik ilmu dari sang guru. Tetapi ada ilmu yang juga harus aku petik diluar sana. Bagaimana cara orang tua bertahan dalam kehidupannya sebagai petani yang separuh waktunya hilang di tengah sawah dengan terik panas yang sangat menyengat. Itu yang harus kupelajari bersama mereka yang sangat kuat dalam menjalani kehidupan. Bukan hanya itu, belajar cara memasak, gotong royong, dan bersosialisasi dengan mereka juga sebuah ilmu yang sampai saat ini melekat dalam ingatan ini. Satu tahun bertahan mencari kepingan rupiah sendiri dari sawah maupun kebun. Bersabar dan tetap dijalani dengan penuh semangat meski tak tau akan jadi seperti apa diri ini.
Satu tahun berlalu, memberanikan diri menginjakan kaki kesebuah sekolah yang sangat jarang dipandang oleh orang kecil seperti diri ini. Menggoreskan pena, bersaing dengan teman untuk bisa menduduki bangku disekolah itu, meski lupa akan angka-angka dan rangkaikan kata yang diajarkan dahulu. Jalan yang diberikan Allah begitu indah, bisa tersenyum bersanding saling memperkuat bersama untuk mendapatkan ilmu dari sang guru. Meski banyak burung di luar sana menertawakan seolah tak percaya dengan diri ini.
Hempasan kebingungan kini kembali, seolah mengingatkan dahulu ketika tak bisa lagi menginjakan kaki ke bangku sekolah. Niat dan tekad yang begitu kukuh mengajak kaki untuk melangkah ke sebuah sekolah yang sepi akan suara yang ada. Sebuah sekolah yang ada di titik lingkar indah hamparan sawah yang hijau. Disini tak ada lagi yang percaya akan kekuatanku untuk ikut membangun negri ini. Hampir tak pernah ikut perlombaan, sampai pada akhirnya ada seorang guru yang memberikan amanah untuk mengikuti kompetisi menulis dari balai bahasa. Dimulai sejak itulah, kepercayaan terbangun, mulai ikut menulis sebuah karya ilmiah untuk dipertunjukan di universitas – universitas terkemuka di Indonesia.
Sebuah piala yang gagah dipandang berjajar disekolah tercinta. Kerjakeras bersama teman-teman menghasilkan sebuah kebanggaan tersendiri di sekolah. Hingga menjadi sebuah wasiat perjuangan kepada adik-adik tercinta. Diimbangi dengan membagikan sedikit ilmu yang pernah didapat disetiap sore selesai kegiatan belajar mengajar. Sebuah amanah yang sangat luar biasa. Ikut menghantarkan adik-adik ke dalam atmosfer nasional lebih dari apa yang saya dapat dahulu. Ikut berkompetisi untuk membagun negri.
Berbekal cuilan prestasi dan keikutsertaan dalam berorganisasi mendobrak sebuah niat yang kuat untuk melangkah lagi mengajak diri ini menyasak informasi tanpa seorangpun yang tahu. Memberanikan diri mengumpulkan segara syarat untuk mendaftar disebuah perguruan tinggi. Atas izin Allah, nikmat yang begitu besar, saya diberikan kesempatan untuk mengembangkan ilmu dibidang tekhnologi dengan beasiswa.
Tak pernah terbayangkan akan menginjakkan kaki di sebuah universitas. Berjuang sendiri untuk belajar dan menghidupi diri serta nenek yang telah renta. Menempuh jarak setiap pagi dan sore sekitar 80 km. Mengajarkan ilmu untuk adik-adik yang membutuhkan serta membantu mengerjakan tugas guru itulah cara saya untuk tetap bisa bertahan dengan nenek.
Terlintas untuk berhenti mencari ilmu dan mencari segenggam beras saja untuk nenek yang sudah mulai terjatuh dari jalannya. Kadang didinginnya malam, nenek sendiri, digubuk tua yang sebentar lagi juga pasti roboh. Menyalakan lampu malam dengan tangan gemetarnya sendiri, sedangkan bahaya akan kabel yang ada didepannya terpampang nyata.
Terus berdiri, memperkuat diri dengan segala bantuan fasilitas dari Ibu Guru yang begitu menyayangiku. Ketika siang habis dengan waktu kuliah dan malam habis dengan beliau, Ibu Guru yang sekarang menjadi ibu saya, menjadikan waktu untuk menatap atau sekedar menghangatkan air untuk nenek tiada lagi. Kadang sayur beberapa hari yang kumasak, masih beliau makan. Tangan dan kaki yang sudah gemetar tak memungkin lagi nenek untuk menyalakan api tungku.
Berbagi usaha didirikan, mulai dari bimbingan belajar, jualan baju, dan bermain dengan youtube dan blogs. Tapi Allah belum mengizinkannya. Malu rasanya lama dirumah tanpa status yang ada. Menjadi bahan perbandingan dengan kawan yang lulus SMK dan bisa kerja di luar sana dengan hasil yang sangat membanggakan.
Melamar berbagai pekerjaan, mulai dari asisten peneliti, CS Klinik Dental, CS salah satu provider terkemuka, dan juga CS online shop. Tak sedikit yang menolaknya. Sampai satu tahun berlalu, tepat dihari diwisudaku dahulu, pertama kali saya merasakan kerja di sebuah kantor online shop.
Disela perjalanan tersebut, kadang menyempatkan diri untuk searching informasi- informasi di google. Sampai suatu ketika Allah bukakan salah satu web beasiswa yaitu LPDP. Membuat akun adalah salah satu langkah iseng saya pertama kali. Tak tau apa yang akan dibuat yang terpenting adalah akun pendaftaran terlebih dahulu. Selang waktu lama, memikirkan akan syarat toefl yang harus mencapai 500. Mengayun langkah dengan kemantapan hati untuk mengumpulkan berbagai persyaratan yang diminta oleh LPDP. Mencari informasi sendiri, tiada teman seperjuangan di kampus dan berminat akan beasiswa ini menjadikan diri ini susah untuk mengetahui informasi dan persyaratan yang diberikan oleh LPDP.
Aliran tahap pendaftaran mengalir begitu saja, sampai pada tahap pengumuman lolos seleksi administrasi. Menunggu jadwal untuk wawancara, mulai banyak teman-teman seperjuangan saling berdiskusi mempersiapkan diri. Tapi kadang hati bertanya, untuk apa engkau mencari jawaban yang tidak kau miliki untuk menjawab pertanyaan sang interviewer. Jujur apa yang ada didalam diri ini saja, menjawab dengan apa adanya diri ini. Sebutir harapan sang anak lusuh untuk Indonesia, agar tidak ada lagi yang merasakan bagaimana pahitnya tidak menempuh pendidikan. Sampai pada waktunya, harapan-harapan kecil yang ada dalam diri ini disampaikan. Meyakinkan bahwa sesungguhnya, meskipun kecil yang bisa saya lakukan, tapi setidaknya bisa menjadikan negri ini memiliki generasi emas, dan mandiri.
Tangga pertama setelah dinyatakan lolos beasiswa afirmasi LPDP adalah pengayaan bahasa. Berjalan dari perbukitan menoreh dan menembus kota Jogja menjadi rutinitas. Menginggalkan nenek yang semakin renta di rumah untuk mendapatkan ilmu bahasa. Berlalu 6 bulan dengan berbagai cerita di dalamnya.
Tangga kedua adalah PK yang rutin diadakan oleh LPDP. Kali pertama harus meninggalkan nenek untuk ikut membekali diri di Jakarta. Allah begitu mencintai kami. Dua hari menginjakan kaki di Jakarta nenek yang begitu kucintai, satu-satunya penopangku di panggil oleh Allah. Sungguh tak karuan, tidak bisa melihat untuk terakhir kalinya dan menemani disaat beliau mau bertemu Allah. Gemetar, panas, dingin yang dirasa. Tapi ada mereka mutiara-mutiara Indonesia yang selalu menguatkan, mendekap, menghapus tangis, mereka para penerima beasiswa LPDP PK 104 “Panji Candravasi”.
Lalu bukan lagi aku tak punya keluarga, LPDP adalah keluargaku. Disini aku semakin kuat, disini banyak cerita, disini aku bisa menyapa setiap pagi dosen di S2 Ilmu Komputer UGM, disini aku bisa merangkul adik-adik SMA untuk meneliti sampai menjadi kepercayaan INTEL, disini aku bisa mengembangkan perekonomian dengan online shop, dan disini adalah nafas panjang Indonesia dimulai. Dari anak Jogja untuk Indonesia.
WAHYU SRI MULYANI
BEASISWA AFIRMASI LPDP
S2 ILMU KOMPUTER UGM
IG = @wahyu_srimulyani
KULON PROGO, YOGYAKARTA
BalasTeruskan
|
Komentar
Posting Komentar